Selasa, 13 Juli 2010

Janji Sahabat












“Raya !!“ Panggil seseorang kepadaku dari belakang.

Aku pun menoleh. Ternyata yang memanggilku adalah Reyvand, salah satu sahabat kentalku.

“Ada apa Rey?“ tanyaku tanpa basa-basi.

“Kenapa sih, sinis amat!!” jawab Rey judes.

“Ya, nggak apa-apa sih! Lagian elo mau ngapain manggil-manggil gue!” kataku sambil melanjutkan perjalanan pulang yang sempat tertunda.

“Koq, elo sekarang menghindar dari gue, Ra?” tanya Rey sambil berjalan di sampingku.

“Kenapa? Karena gue pengan aja,” jawabku santai.

“Bohong! Pasti ini ada hubungannya sama kejadian itu kan?? Elo jangan dengerin ucapannya Natra!! ”

Langkahku terhenti, entah kenapa. Pipiku terasa panas dan memerah setelah rey menyebutkan nama Natra, pacarnya. Aku berlari meninggalkan Rey, tanpa sadar aku menangis. Aku berusaha ingin menutupinya dari Rey. Sayup-sayup ku dengar Rey memanggilku. Tapi, aku tak menghiraukannya dan terus berlari menjauhinya.

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

Ringtone ‘ Diantara Kalian ‘nya D’masiv bergema di kamarku. Sudah lama handphoneku berdering memperdengarkan lagu favoritku itu. Namun, aku tidak bergeming dan malahan membiarkannya saja terus berbunyi di atas meja belajarku. Selama kurang lebih 15 menit akhirnya aku kalah juga, kepalaku semakin pusing saja mendengar nada deringku tanpa henti. Aku meraih handphoneku dan melihat layarnya, ternyata sedari tadi Reyvand berusaha menghubungiku. Aku tak mengangkatnya, tetapi segera menonaktifkan handphoneku. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur, seraya memejamkan mata. Kejadian soreitu, antara aku, Rey dan Natra seakan-akan menghantui pikiranku. Entah kenapa kepalaku terasa semakin berat.

“Rey, maafin aku!”

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

“Raya....ada Erist sama Obel datang!” teriak ibuku dari ruang tamu. Suara yang keras dan lantang itu, sehingga sejauh apapun pasti terdengar jelas olehku. Itulah my super mom.

“Bilangin tunggu sebentar! Raya lagi ngerapiin rak buku, nih! Tanggung!” teriakku tak mau kalah.

“Nggak usah, deh! Lama!” kata Obel yang langsung ngeluruk ke kamarku di ikuti oleh Erist.

“Eh, main masuk aja lo berdua!”

“Sorry-sorry, habisnya kalau nungguin elo bakalan lama!” bela Erist sambil duduk di tepi kasurku.

“Emang ngapain kemari? ada yang penting?” tanyaku sambil melanjutkan kerjaanku merapikan rak buku yang tertunda karena kehadiran dua sahabatnya ini.

“Sejak kapan kita boleh kemari hanya ada kepentingan doang! Hampir tiap hari, kan! Biasanya kita berdua kemari. Termasuk Rey,” jawab Erist padaku.

Aku menghentikan pekerjaanku dan duduk di samping Obel.

“Kalau kalian kemari disuruh sama Rey, nggak usah, deh! Mendingan kalian berdua pulang gih sana!!” kataku penuh emosi.

“Siapa bilang, Ra! Kedatangan kita berdua ke sini cuma buat...”

“Buat ngorek semua informasi tentang gue kan?” jawabku memotong perkataan Obel.

“Elo salah, Ra! Elo harus dengerin gue ngomong dulu,” pinta Obel sambil menenangkan Raya.

“Gue nggak perlu dengar apa-apa dari lo berdua! Pokoknya sekarang elo berdua pulang! Gue lagi pengen sendiri dan gue lagi malas ngomongin Rey!!” kataku ketus sambil menatap sinis pada Obel dan Erist. Padahal sebelumnya, aku tak pernah semarah ini pada sahabat-sahabatku.

Akhirnya, Obel dan Erist nyerah juga.

“Gue harap elo bisa lebih tenang, Ra! Dan asal elo tahu, Gue dan Obel ke sini bukan karena di suruh sama Rey. Tapi, karena kita emang sahabat lo kan, Ra?”

Aku hanya tertunduk diam, kepalaku mulai terasa berat dan hatiku terasa panas.

“Kita pulang dulu, Ra!” pamit Obel tanpa kuhiraukan.

Aku segera menutup pintu kamarku dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak mengira akan semarah ini pada mereka. Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu.

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

Aku merapikan tataan rambutku di toilet sekolah. Aku menatap cermin dengan penuh amarah. Aku tidak dapat menerima keadaan fisikku. Mengapa aku berbeda dengan anak-anak cewek di sekolahku. Mereka punya rambut yang bagus berkilauan, mata yang indah, kulit yang mulus dan gaya berpakaian bak model internasional, sedangkan aku! Rambutku kusut, mataku dibingkai oleh kacamata, kulitku kering dan pakaianku bagai gadis kampung. Orang tuaku padahal cukup berada dan terpandang, tapi hal itu bukan menjadi acuan buatku untuk menjadi sosok yang dapat dibanggakan. Anak-anak pun sering mengejekku, mereka anggap aku adalah anak desa yang mimpi jadi orang kota. Natra Diandra lah yang menjadi sosok sempurna itu. Dia mempunyai banyak teman dan penggemar. Aku sendiri, banyak yang menjauhi. Sungguh aku sangat iri kepadanya.

“Kenapa Natra bisa menjadi idola sekolah? sedangkan aku?” ucapku tertunduk sambil menitikkan air mata. Tapi, aku bisa sedikit lega. Aku mempunyai sahabat yang sangat amat patut kubanggakan. Mereka adalah Obel, si ketua perkumpulan para pecinta alam sekolah, Erist, si ahli pelajaran sains dan Reyvand, si ketua OSIS sekaligus pemain basket andalan sekolah. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka. Mereka tidak pernah memandangku sebelah mata seperti teman-teman yang lain. Apabila aku kesusahan, dengan sigap sebisanya mereka pasti membantuku. Hal itulah yang sering membuat anak-anak cewek merasa iri kepadaku. Terlebihnya Natra, pacarnya Rey yang sangat tidak setuju kalau Rey berteman denganku. Aku,sih maklum! Tapi, apakah dia harus memusuhiku dan memperlakukanku seenaknya? Seperti pada sore itu...

Seminggu lagi ulang tahunnya Natra bertepatan juga dengan ulang tahunku, Rey mengajakku untuk menemaninya pergi mencari kado ulang tahun Natra. Sebenarnya aku merasa ragu dan was-was karena takut Natra akan marah besar padaku apabila ia tahu kalau akau jalan bareng dengan Rey, walaupun itu hanya jalan biasa. Tapi, Rey meyakinkanku sehingga aku tak dapat mengindahkannya lagi. Lagipula ia berjanji akan membelikanku hadiah juga. Tapi, bukan itu yang ku inginkan, karena aku tak mengharapkan imbalan apapun.

“Gue kasih Natra apa ya, Ra!” tanya Rey,meminta pendapat padaku di sebuah toko pernak-pernik.

“Natra sukanya apaan?” tanyaku balik.

“Gue sih,nggak begitu tahu. Elo kan cewek, masa nggak tahu apa yang biasanya cewek suka”

“Emang sih, gue cewek! Tapi gue beda sama Natra. Dia cewek yang stylist, sedangkan gue Cuma cewek kampung doang!”

“Kata siapa? elo jangan merendah gitu dong! Elo dan Natra kan, sama-sama manusia juga. Apanya yang beda??” ujar Rey menyenangkan Raya.

“Thank’s deh! Elo emang sahabat gue yang paling baik,” sahutku sambil tersenyum.

“Biasa aja lagi!” jawab Rey tersipu.

Tiba-tiba aku melihat sebuah bros yang sangat bagus. “Rey, gimana kalau kamu kasih bros itu buat Natra, pasti bagus banget deh, kalau dipaduin sama baju pestanya dia,” tawarku pada Rey.

“Hmm....bagus juga, Natra pasti suka! Thank’s yach! Sekarang elo pilih hadiah buat elo sendiri”

“Nggak usah,deh! Gue nggak minta imbalan koq!” tolakku.

“Siapa bilang ini imbalan? Ini buat kado elo entar. Kebetulan kan, ulang tahun elo barengan Natra. Sekalian aja gue beliin elo kado sekarang!”

“Nggak perlu cepet-cepet kali! Kan masih seminggu lagi!”

“O...gitu yach! Jadi, entar aja nich kadonya??”

“Iya,” jawabku singkat.

“Emang elo mau gue kasih kado apa??” tanya Rey padaku.

“Boleh milih nih??” candaku.

“Tentu! Elo maunya apa? Tapi, jangan yang mahal-mahal yach!!”

“Nggak koq, gue cuman minta syal aja buat kado gue. Boleh kan?” pintaku .

“Cuman itu doang?? Boleh banget!! Gimana ulang tahun elo kita rayain di taman bareng Obel sama Erist biar tambah rame! Kita rayainnya tepat jam 8 malam selesai gue pesta di rumah Natra. Elo ikut ke pestanya Natra juga kan?” tanya Rey padaku.

“Nggak akan pernah! Jangan mimpi deh, lo! Bakal datang ke pestanya gue. Nggak pantes!!” jawab Natra yang tak kami sadari kedatangannya. “Elo ngapain jalan bareng cowok gue? Udah ngaca belom??” ejek Natra sambil tertawa.

“Natra, kamu apa-apaan sih! Bikin malu tahu nggak! Dia Cuma menemani aku cari kado buat ulang tahun kamu! Salah ya??” Rey membelaku, sedangkan aku hanya tertunduk tak berkutik.

“Salah banget!! Dia berani jalan sama cowoknya Natra Diandra!!”

Plak!!! tamparan pedas Natra mendarat di pipiku. Dia merutukiku dengan segala ejekan kejinya. Rey berusaha membelaku. Tapi, aku tidak tahan. Aku pun berlari keluar di tengah rajaman bulir-bulir hujan. Dingin! Perih! Sakit kurasakan. dari belakang Rey berusaha mengejarku. Tapi, aku lebih dahulu menaiki taksi sehingga langkahnya terhenti.

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

Ku buka lebar jendela kamarku, dan mengirup segarnya udara pagi ini.

“Selamat ulang tahun Raya! Hari ini kamu sendiri tanpa sahabat-sahabatmu.” ucapku sendiri sambil tersenyum simpul. Hari ini ulang tahunku yang ke 17, sweet seventeen kata orang-orang.

“Tapi, masih ada Ibu kan?” kata Ibuku memasuki kamarku sambil membawakan kue ulang tahun dengan lilin angka 17 di atasnya. Sontak aku kaget.

“Dan, kami.....” Obel, Erist dan Rey masuk beriringan di belakang ibuku.

“Ibu.....,” aku memeluk ibuku dengan eratnya. “Kalian.....”

“Selamat ulang tahun yach?? kami bertiga masih sahabat kamu kan?” tanya Rey padaku.

“Tentu....maafin aku yach, kalau selama ini aku terlalu egois,” kataku sambil menatap mereka bertiga.

“Iya, kami juga minta maaf!! Terlebihnya gue,” kata Rey sambil menyalamiku.

“Sama-sama,Rey!” jawabku sambil tersenyum.

“Ok, sekarang giliran Ibu dong! Masa Ibu dilupain sich! Selamat ulang tahun sayaang!”

Kami semua tertawa, begitu juga dengan Ibuku.

“Makasih banyak ya, Bu!”

“Sekarang kita nyanyikan lagu selamat ulang tahun buat Raya! Terus kita tiup lilinnya barengan!!”

Kami semua larut dalam canda tawa. Hari ini adalah hari bahagiaku. Hari ulang tahunku, yang tidak pernah ku lupa seumur hidupku. Karena Ibuku dan sahabat-sahabat terbaikku iku merayakannya. Sungguh di luar dugaanku sebelumnya.

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

Aku bersiap-siap untuk merayakan ulang tahunku lagi di taman sesuai janji Rey. Aku akan merayakannya lagi bersama sahabat-sahabat terbaikku. Aku mengenakan stelan berwarna putih. Aku berusaha agar penampilanku malam ini berbeda dari biasanya. Dengan bantuan ibuku, aku terlihat lebih cantik malam ini. Tapi, apakah ini hanya perasaanku saja. Setelah selesai berdandan, aku segera berangkat. Kebetulan kami berangkat sendiri-sendiri, karena Rey masih di pestanya Natra. Sedangkan Obel dan Erist mencari makanan ringan buat di makan di taman. Otomatis, mereka tidak bisa menjemputku. Tetapi, aku sudah terbiasa pergi sendiri.

Sepanjang jalan aku berjalan kegirangan, tetapi tiba-tiba bayang-bayang Natra datang lagi. Dia mengejekku, dia mencelaku, dia mempermalukanku dan dia menamparku. Aku mengepalkan tanganku, serasa amarahku memuncak. Tapi, aku tak dapat berbuat apa-apa aku gadis lemah.

Rintik hujan mulai turun, dengan sekejap saja rintik itu telah menjadi hujan besar. Aku berlari mencari tempat berteduh. Aku tak menghiraukan kendaraan yang hilir mudik, di seberang sana ku lihat halte. Aku ingin ke sana untuk berteduh agar bajuku tak terlalu basah kuyup. Tapi,.....

BRAK.......

Sesosok tubuh tertabrak sedan merah. Terpental dan berguling bersimbah cairan merah yang terguyur air hujan. Banyak orang merumuki tubuh itu. Begitu pula denganku, aku merasa kenal dengan sosok itu. Sosok itu serasa satu jiwa denganku, tapi entah lah aku tak tahu. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya pakaian putihnya yang agak memerah karena tercampur darah terlihat jelas olehku. Aku rasanya sedang bercermin.

Hujan sudah agak reda, aku melirik jam tanganku sudah jam 8.30

“Ups, gue terlambat! Pasti mereka sudah menunggu!”

Aku berlari meninggalkan kerumunan orang tadi menuju taman menepati janjiku pada mereka, sahabat-sahabatku. Entah kenapa aku berlari seperti tanpa beban, terasa ringan. Kejadian selama ini seakan hilang secara sekejap.

Sesempai di taman ternyata mereka telah berkumpul menungguku.

“Maaf, gue telat! Soalnya tadi ada kecelakaan lalu lintas”

“Nggak apa-apa, lagian kita juga baru datang, ”kata Obel sambil menyuruhku duduk.

“Elo nggak apa-apa kan,Ra?” tanya Erist padaku seraya menatap wajahku.

“Nggak apa-apa koq! Emang kenapa sama wajah gue??” tanyaku balik.

“Muka lo, pucat banget,Ra!” jawab Rey.

“Masa, sih??” aku meraba wajahku. “Biasa aja deh!!”

“Ya, udah! Sekarang kita pesta, ngerayain Ul-tahnya Raya....It’s time to party!!” kata Obel semangat.

Selama 1 jam lebih kami semua berpesta. Tapi, banyak orang yang melirik ke arah kami. Mereka seakan-akan menertawakan kami. Tapi, biarlah! Yang penting kami senang apalagi aku.

Pukul 10 tepat, kami akan beranjak pulang. Obel, Erist dan Rey menyerahkan kado kepadaku. Mereka menyuruhku membukanya. Ternyata surprise,,,isinya syal berwarna biru ocean, manis banget. Rey, mengenakannya di leherku.

“Kamu cantik pake syal ini, Ra!” puji Rey padaku.

Aku hanya tersenyum malu. Akhirnya aku pulang duluan, mereka bertiga katanya masih ada urusan.

Aku berjalan sendiri menapaki jalan malam ini, tapi aku merasa linglung. Kemana aku harus pulang?? Aku bagai orang bodoh setelah kejadian itu.

**** ☺ ☻ ☼ ♥ ♦ ♪ ♫ ****

Sepeninggal aku, di sebuah kedai. Obel, Erist dan Rey sedang asyik ngobrol bareng. Tiba-tiba handphone Rey berbunyi. Rey segera mengangkatnya. Rey berbicara amat tegang dan gemetaran. Setelah 2 menit, pembicaraan itu pun berakhir.

“Ada apa,Rey?? Dari siapa??” tanya Obel pada Rey yang memasang wajah ketakutan.

“Itu..da..dari...nyokapnya Ra..ya...,ka..ta..be..be..liau....Ra...ya...meninggal tepat pukul 8 malam ta..di...ka..re..na..ter..tabrak...mobil...” jawab Rey gagap.

“Ah, nggak mungkin! Raya kan barengan kita sampai jam 10 tadi,” Obel nggak percaya.

“Gu..e....gue serius.....nyo...kap....nya ngg..ngga mungkin bohong,...tapi kata....kata...nyokap...nya ada sesuatu yang....aneh....Raya....memakai....syal di le..hernya....padahal waktu.....dia berangkat mulai rumah dia nggak....pake syal. Gue tanya warna syalnya apa.....nyokapnya jawab......biru ocean......lebih an..nehnya lagi....nggak ada darah sedikitpun menempel di syal.....itu.....pada...hal....sekujur tubuhnya......bersimbah.....darah....,” Rey semakin gemetar.

“Terus, yang barengan sama kita tadi siapa dong?” tanya Erist.

Belum sempat Rey menjawab, handphone mereka bertiga berbunyi. Anehnya barengan. Ternyata ada sms yang masuk ke handphone masing-masing. Setelah mereka membacanya, mereka terkejut karena isi smsnya sama.

“TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA, KARENA SUDAH JADI SAHABAT GUE YANG PALING BAIK. GUE SAYANG KALIAN SEMUA”

_RAYA_

Mereka semua bergidik ketakutan.


*Note

Real Author : Riska Yunida

Tidak ada komentar:

Posting Komentar